Senin, 06 September 2010

INI DIA KAMPUNG KITA




Teman, pernahkah kalian mampir ke kampungku ? Jikalau belum, akan kuceritakan sedikit mengenai kampungku. Kampungku ini konon sudah ada sejak abad ke 2, jauh sebelum adaorang-orang dari Tionghoa, Kampung Lusitania, Kampung Lampard, Kampung Tanah Rendah, maupun Kampung Nikon datang ke kampungku.

Kampungku terdiri dari beberapa dusun yang tentunya setiap dusun dipimpin oleh kepala dusun. Dusun itu tersebar di beberapa pulau mulai dari Andalas, Borneo, Celebes, hingga pulau-pulau yang ku tak tahu namanya. Kehidupan di setiap dusun sangatlah damai. Kepala dusun sangat mengayomi dan mengerti keinginan rakyatnya dan penduduk dusun sangat menaruh hormat pada kepala dusun yang arif bijaksana.

Keadaan itu berlangsung cukup lama dan keadaan berangsur-angsur berubah saat warga kampung lain mulai berdatangan ke kampungku. Mereka menawarkan barang dagangan yang tidak terdapat di kampungku. Mereka terpikat dengan keindahan dan kekayaan alam kampungku. Kepala dusun mulai diracuni dengan pemikiran-pemikiran tentang keserakahan. Kejadian ini katanya terjadi saat memasuki abad 15, saat penduduk kampung Lusitania memasuki wilayah kampungku.

Silih berganti warga kampung luar berdatangan mengunjungi kampungku. Namun, ternyata penduduk Kampung Tanah Rendah-lah yang sangat terpincut dengan keadaan kampungku. Berkali-kali mereka ingin menguasai kampungku, dan berkali-kali pula warga dusun-dusun di kampungku berperang untuk mempertahankan kampungku yang tercinta ini. Kejadian ini sangatlah memakan waktu yang sangat lama. Bayangkan saja Teman, penduduk Kampung Tanah Rendah ingin menguasai kampungku dari abad 17 hingga abad 19, namun mereka tidak benar-benar bisa menguasai kampungku.

Lalu datanglah penduduk Kampung Nikon yang katanya akan membantu warga kampungku untuk mengusir Kampung Tanah Rendah dari kampungku. Penduduk kampung sangat menaruh harapan pada mereka. Memang mereka berhasil membantu warga kampung mengusir penduduk Kampung Tanah Rendah, namun mereka pun sama halnya dengan penduduk kampung luar terdahulu. Penduduk Kampung Nikon pun terpikat dengan kekayaan alam di kampungku sehingga mereka ingin pula menguasai kampungku.

Akhirnya gangguan-gangguan yang merongrong kampungku usai sudah. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya kampungku telah berusia 65 tahun. Namun, bukan berarti selama itu tidak ada gangguan yang merongrong kampungku. Pernah di tahun 1968, kampungku bersitegang dengan Kampung Singa karena pemimpin kampung itu memutuskan hukuman mati bagi dua penduduk kampungku. Penduduk kampungku itu bekerja sebagai Prajurit Khusus Kampung. Ketegangan itu pun berakhir dengan damai, karena Kepala Kampung ingin menjaga citra baik kampungku.

Teman, kali ini pun kampungku menghadapi permasalahan yang sudah muncul sejak dahulu. Kedaulatan kampungku sedang digerogoti oleh kampung tetangga, Kampung Jiran namanya. Kepala Kampung pertama pernah membuat program untuk mengganyang Kampung Jiran itu. Namun hal itu tidak pernah terjadi. Kali ini, Kampung Jiran melakukan penangkapan tiga orang Prajurit Air dari kampungku. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari penduduk kampung. Mereka bersedia untuk berperang apabila dibutuhkan. Namun, Kepala Kampung Yang Keenam berkehendak lain. Beliau ingin tetap menjaga citra baik kampungku ini dan menghindari peperangan. Kondisi ini justru semakin memicu reaksi keras dari penduduk kampung. Warga menilai bahwa Kepala Kampung Yang Keenam terlalu bersikap lembek. Namun, apa kata Kepala Kampung harus kita turuti meskipun bertentangan dengan hati kita.

Nah, Teman, apakah kalian tahu keadaan saat ini yang lebih ‘hebat’ di kampungku selain tentang penggerogotan Kampung Jiran itu ? Aku ceritakan lagi padamu Teman. Di saat kampung ini mengalami rongrongan tentang kedaulatan, ternyata para Wali Warga malah menginginkan padepokan baru yang berfasilitaskan kolam cebur dan tempat latihan raga. Dan tahukah kau Teman, biaya untuk membangun padepokan baru bagi para Wali Warga itu sebesar 1.600.000 keping emas. Padahal padepokan lama mereka masih layak dipakai dan sebaiknya uang itu digunakan untuk membiayai pendidikan saja.

Oiya, Teman, nama kampungku adalah Kampung Segala Ada, mulai dari hal terbaik hingga hal terburuk ada di kampungku. Kampung yang berisikan orang-orang pintar sekaligus orang-orang bodoh. Pokoknya selalu ada hal yang tidak pernah terjadi di kampung lain, terjadi di kampungku. Itu sekelumit tentang kampungku, bagaimana cerita dari kampungmu ?

Tidak ada komentar: