Selasa, 18 Agustus 2009

WOW

Peristiwa ini terjadi semalam, pas saya pulang dari menonton film di bioskop Blok M Square bersama sahabatku kekasihku (hehehehehe….). Untuk menuju kost saya yang ada di kawasan Pondok Aren, saya biasanya naik Metromini 71 dan disambung angkot ke Ceger. Nah, kejadian ini terjadinya di dalam metromini.

Metromini yang saya tumpangi baru saja meluncur meninggalkan kawasan terminal. Eh, dasar Jakarta, baru beberapa menit berjalan sudah macet lagi. Kali ini saya terjebak macet di sekitar Melawai Plaza. Sembari ‘menikmati’ macet, saya melihat-lihat penumpang yang naik di metromini ini. Tanpa disengaja mata saya melihat tulisan ST*N, State Accounting pada jaket seorang penumpang. (Wah, satu almamater nih !). Dia duduk di depan saya yang saat itu kebagian jatah berdiri. Saya yakin dia mahasiswa di sekolah tinggi itu karena umumnya jaket model itu dibuat untuk sekelas atau sekumpulan. Nah, saat lagi macet itu naiklah seorang nenek dengan kantong belanjaannya yang penuh dengan belanjaan tentunya. Dalam benak saya muncul iba, sudah berat berdiri pula. Jika saya sedang duduk, mungkin sudah saya berikan tempat duduk saya untuk nenek itu. Selang beberapa saat setelah nenek itu naik, ada seorang yang memberikan tempat duduknya untuk nenek itu. Akan tetapi, saya sungguh kecewa. Ternyata yang memberikan tempat duduk itu bukan mahasiswa ST*N. Padahal saya mengharapkan dia yang berdiri lalu memberikan tempat duduknya untuk si nenek. Namun, dia tampak duduk dengan tenang , tanpa perasaan.

Wah, sungguh pemandangan yang membuat hati ini tak enak. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa tega berbuat seperti itu ? Apalagi ini mahasiswa dari sebuah sekolah tinggi yang katanya mencetak ahli keuangan. Apakah ada salah dalam proses belajar di kampusnya ? Menurut saya, tak ada yang salah dalam pembelajaran di kampus itu karena saya juga dulu berkuliah di sana. Saya hanya miris melihat kejadian kecil seperti itu. Mengapa tampak tak ada kepedulian dari mahasiswa tadi melihat pemandangan seperti itu ? Apakah setelah mereka bekerja, mereka pun tidak peduli terhadap sekitar ? Apakah mereka terlalu banyak belajar Intermediate Accounting, Advanced Accounting, atau Pengantar Perpajakan, sehingga mereka melupakan ada pelajaran mengenai budi pekerti dan bertingkah lak di kehidupan ? Entahlah, saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saya hanya takut hal itu akan terbawa lalu menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Kejadian yang saya lihat itu sungguh pukulan yang telak bagi saya. Pendidikan yang kita berikan terkadang masih bertujuan pada pencapaian akademik, jarang bertujuan untuk kehidupan sosial. Belum tentu orang yang nilai akademisnya bagus akan berperilaku baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya yakin masih banyak orang yang peduli dengan sekitarnya. Orang yang menganggap bahwa kita semua bersaudara. Saya juga yakin masih banyak orang yang mau menolong sesamanya.

Semoga mahasiswa itu sadar dan berbuat lebih baik dalam kehidupannya kelak. Semoga kita semua mendapatkan pelajaran dari setiap kejadian yang kita saksikan dalam keseharian kita. Semoga saya, dan pembaca blog ini, menjadi orang-orang yang lebih baik dari hari ke hari.

Semoga….

1 komentar:

n - h - i mengatakan...

saya jadi teringat,dan ingin mengingatkn terutama diri saya sendiri..ternyata,kita ini sadar atau tidak sadar bukan hanya membawa nama baik kita sendiri. apalagi dengan membwa atribut yg terpampang jelas, harusnya bukan hanya menjadi bahan untuk 'mempertontonkan' kebanggaan,tapi justru ada nama baik sebuah institusi yg dpertaruhkn dg perbuatan kita.
kita ini adalah iklan,.iklan dalam kehidupan nyata.