Rabu, 12 Agustus 2009

07090809

catatan kecil sebuah perjalanan menyeberang pulau untuk seorang teman

KE LAMPUNG

Jam baru menunjukkan pukul 02.08 dinihari saat kuinjakkan kaki ini di kapal penyeberangan Duta Banten, kapal yang akan mengantarkanku ke Pulau Sumatera. Tujuanku kali ini adalah menghadiri pernikahan teman kuliahku. Dia mendapatkan gadis dari Bandar Lampung yang akan menemaninya melewati hari-hari di kehidupannya. Aku berangkat menuju Bandar Lampung tidaklah sendirian. Aku berangkat bersama Sembilan orang teman kuliah lainnya, termasuk satu orang adik kelas.

Udara yang dingin berhembus di kapal tak menyurutkan kakiku untuk menjelajahi kapal. Kapal laut yang terdiri dari tiga tingkat atau dek atau apalah itu. Aku tak paham benar tentang istilah di kapal. Akhirnya setelah berjalan-jalan, aku dan teman-teman memutuskan untuk berkumpul di restorasi kapal karena perut kami semua sudah mengeluarkan bunyi-bunyian yang aduhai. Dalam restorasi kapal itu tidak tersedia menu makanan yang kiranya dapat mengenyangkan perutku, yang ada hanyalah mie instan. Dengan batas lapar yang tidak bisa ditolerir lagi, kuputuskan untuk membeli Nis*in mie goring. Setelah mie tersaji, langsung kusantap dengan lahap. Untuk menambah kenikmatan, kupesan juga sebotol Fr*stea dingin. Saat sedang asyiknya menyantap mie, salah seorang temanku bertanya, “Bang, berapa harga air gelas ini?”. Dengan santainya juru masak yang ditanya menjawab, “Tiga ribu, Mas”. Dalam hati ku berteraiak APAAAA ??? Aku terhenyak dengan harga yang disebutkan oleh juru masak itu. Lantas si juru masak pun meneruskan kalimatnya, “Harga segitu mah udah standar di kapal Mas”. Wow, bagi orang yang pertama kali naik kapal, harga segelas air mineral sangatlah tidak standar.

Kulanjutkan makanku meski kubertanya-tanya, berapa harga makanan yang ku makan ini. Selesai sudah makanku. Lalu terjadi obrolan sebagai berikut,

Aku : “Mas, mie goreng sama teh botol, berapa ?”.

Juru Masak : “Dua puluh ribu Mas.”

Aku : “Mie gorengnya berapa ?”

Juru Masak : “Dua belas ribu.”

Aku : “Berarti teh botolnya delapan ribu ya ?!”

Juru Masak : “Iya Mas.”

Lagi-lagi kuterkejut mendengar penjelasan harga makanan yang disampaikan oleh si juru masak.

Setelah membayar seharga makanan tadi, aku memilih untuk tetap di restorasi meski ada beberapa temanku yang keluar dari restorasi. Kuputuskan untuk mengobrol sebentar dengan juru masak tadi.

Aku : “Asalnya dari mana, Pak?”

Juru Masak : “Saya mah dari Merak aja, Dek”

Aku : “Oh….”

Juru Masak : “Saya sepuluh hari di rumah dan dua puluh hari di kapal. Gitu terus…”

Aku : “Kalo Mas asalnya dari mana?” (kubertanya pada juru masak lainnya yang membuatkan mie goreng pesanananku)

Juru Masak 2 : “Saya sih dari jauh Mas. Dari Jawa”

Aku : “Jawa-nya mana Mas ?”

Juru Masak 2 : “Klaten, Mas.”

Aku : “Sama kayak Bapak ini juga ? Dua puluh hari di kapal ?

Juru Masak : “Ah, enggak Mas. Saya setiap hari di kapal..”

Wah, sungguh pembicaraan yang menarik. Aku memutuskan menghentikan pembicaraan dan setelah berpamitan pada kedua juru masak tadi, aku bergabung dengan teman-temanku di luar. Ternyata mereka sedang bercerita tentang harga makanan yang mereka makan tadi. Mereka pun terkejut dengan harga makanan yang telah mereka makan tadi. Wah, ternyata bukan aku saja yang terkejut dengan harga makanan tadi. Untuk diketahui, harga P*p Mie adalah sepuluh ribu, The Botol S*sro dan Fr*stea sama-sama delapan ribu, dan susu hangat segelas seharga dengan the botol. Tapi sudahlah, toh makanan itu sudah masuk ke perut kami semua.

Perjalanan menuju pelabuhan Bakauheni masih panjang. Ku isi waktu itu dengan mengobrol dan tertawa bersama tema-teman. Banyak cerita yang terlontar dan ada saja ucapan atau celetukan temanku yang membuat kami semua tertawa hingga tak merasakan goyangan kapal. Tak terasa hampir sepanjang perjalanan kami isi dengan obrolan-obrolan yang menghangatkan suasana.

Tepat pukul 04.15, aku sampai di Pelabuhan Bakauheni. Ternyata perjalanan antara Pelabuhan Merak-Pelabuhan Bakauheni memakan waktu sekitar dua jam tujuh menit. Bandar Lampung, tempat yang menjadi tujuan kami masih jauh dari tempat kuberada saat ini. Kami lanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil sewaan dari pulau Jawa tadi. Baru keluar dari lokasi pelabuhan, mobil yang kutumpangi dicegat oleh polisi. Entah salah apa rombongan kami. Sang polisi meminta uang, entah untuk tujuan apa. Usut punya usut, ternyata sang polisi itu meminta ‘uang rokok’. Awalnya sopir mobil kami memberikan uang sepuluh ribu rupiah, eh…. Polisi itu minta tambahan lagi. Akhirnya si sopir memberikan tambahan lagi sebesar sepuluh ribu rupiah. Setelah itu, baru mobil kami melanjutkan perjalanan lagi. Selepas kejadian itu, aku memutuskan untuk tidur karena badan mata ini sudah lelah.

Kurasakan sentuhan halus di pundakku, “Dit, bangun ! Mau sholat shubuh gak ?” Ohh… ternyata mobil berhenti di sebuah SPBU. Aku pun lantas turun dari mobil dan berwudhu di kamar mandi SPBU tersebut. Sholat shubuh dilaksanakan secara berjamaah di mushola SPBU. Selepas sholat, kami berbincang-bincang sebentar di luar mushola. Supir dan temannya memesan kopi pada tukang kopi asongan yang ada di SPBU tersebut. Perjalanan dilanjutkan lagi.

Selepas SPBU itu aku tidak tidak tidur lagi. Ku biarkan mata ini memandang ke luar mobil. Pemandangan sepanjang perjalanan ke Bandar Lampung menurutku saying untuk dilewatkan begitu saja. Banyak pemandangan yang membuatku takjub. Ada PLTU yang sangat besar yang kulewati, selain itu masih banyak hal yang dapat kunikmati dengan mataku ini. Pukul 06.30, mobil telah memasuki kota Bandar Lampung.

DI LAMPUNG

Tiba di kota Bandar Lampung, mobil kami masuk ke sebuah rumah makan masakan Padang. Nama rumah makan itu Begadang II. Rumah makan ini adalah tempat janjian rombongan kami dengan calon adik iparnya Irul. Sambil menunggu Deka, nama calon adik ipar Irul, kami sarapan dulu di rumah makan itu. Layaknya rumah makan Padang lainnya, pelayan rumah makan itu langsung mengeluarkan hidangan-hidangan di atas meja (seperti iklan sebuah rokok). Aku hanya memesan ayam goreng untuk menemaniku sarapan pagi ini. Aku tak begitu tertarik dengan hidangan yang ada di depan mataku. Tak sampai lima menit, ayam goreng panas langsung tersaji di depanku. Tanpa basa-basi kuambil sepotong ayam tadi. Ku suwir sedikit ayam itu, dan WOW !!! Rasanya mengguncang dunia. Belum pernah kurasakan ayam goreng senikmat ini. Rahasia kenikmatan ayam ini terletak pada cara menggorengnya. Sebelum digoreng, ayam dicemplungkan ke dalam telur. Lalu digoreng dalam minyak panas. Pokoknya kunikmati sekali sarapan pagi ini. Biar lebih nikmat, kutambahkan kuah dari tiap hidangan yang ada (lagi-lagi seperti iklan rokok yang terkenal dengan jargon Mau makan enak tapi murah…)

Selesai sarapan, pukul 07.19, Deka belum kunjung datang. Akhirnya ku putuskan untuk memfoto kawasan sekitar rumah makan itu. Rumah makan Begadang II ini terletak di dekat Patung Gajah. Kuputuskan untuk berfoto di sekitar patung itu. Kapan lagi aku bisa berfoto di sekitar sini ? Dan tidak hanya aku saja yang berfoto, ada tiga orang teman yang ikut berfoto juga. Sedang asyiknya kami berfoto-foto, seorang temanku memanggil kami untuk segera kembali. Ternyata Deka telah datang, berarti perjalanan siap dilanjutkan. Tujuan kali ini adalah resor tempat kami akan menginap. Perjalanan menuju resor pun tidak kalah mengasyikan. Kunikmati pemandangan kota Bandar Lampung yang bersih dan tidak terlalu ramai. Tampak pula bangunan tua di kanan kiri jalan. Lalu tampak papan jalan yang menunjukkan pada suatu lokasi. Pasar Cimeng, nama lokasi yang, jika di Jawa, tentunya bakalan digerebek tiap saat oleh polisi karena cimeng atau ganja dilarang. Entah apa arti cimeng di kota ini.

Perjalanan yang cukup lama untuk mencapai resor terbayar lunas dengan pemandangan yang tersaji di sekitar resor saat rombongan tiba pada pukul 09.06. Aku terpana dengan hamparan laut yang luas dan pasir putih yang menjadi batas antara daratan dan lautan. Resor tempatku menginap berada di atas pantai. Resor ini terdiri dari dua rumah panggung yang menjadi satu. Dibawah resor, tampak tanaman laut dan ikan-ikan kecil yang berenang ke sana-sini. Rasa capai selama perjalanan pun menjadi tak terasa. Aku dan beberapa teman lalu masuk ke salah satu rumah tadi. Kurebahkan badan ini di atas lantai rumah panggung yang terbuat dari kayu. Tak terasa, mata ini pun terpejam. Aku terbangun pukul 10.43 dan kurasakan tubuh ini sudah segar kembali.

Dengan badan yang sudah segar, aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Kutemukan tangga yang menuju ke laut di bawah rumah. Kuturuni tangga itu karena ingin merasakan air laut. Tak sengaja aku menginjak bagian tangga yang berlumut. Aku pun terpeleset dan terjatuh ke laut yang untungnya sedang surut. Semua pakaianku basah kuyup, termasuk dompet yang kusimpan di saku celana. Padahal niat awalnya aku hanya ingin menikmati air laut yang sedang surut. Teman-teman yang melihatku tercebur hanya bisa tertawa. Lantas kuminta salah seorang temanku untuk memfotoku yang sedang basah kuyup. Setelah itu, aku naik lagi ke atas dan pakaian serta celana itu kupakai seharian.

Setelah lewat tengah hari, kami memutuskan untuk mendatangi pulau yang terletak di seberang resor. Kata penduduk di sekitar resor, di pulau itu kita bisa mencoba banana boat. Kami berangkat menuju pulau itu dengan menggunakan perahu sewaan. Ini merupakan pengalaman pertamaku untuk mengarungi lautan menggunakan perahu. Terlintas dalam benakku bagaimana bila perahu ini terbalik. Aku ‘kan tidak bisa berenang. Ternyata setelah perahu jalan, rasanya menyenangkan. Sebelum menuju pulau tujuan, kami mencari makan siang dulu dengan tetap menggunakan perahu tentunya. Kami menyusuri pantai untuk mencari warung makan. Setelah makan siang, kami berangkat menuju pulau tersebut.

Sampai di pulau, seperti layaknya turis, aku menyempatkan diri untuk berfoto. Tiket masuk ke pulau itu seharga Rp 3.000,00. Sambil membayar harga tiket, kami menanyakan harga sewa banana boat. Untuk sekali jalan, penyewa dikenakan biaya sebesar Rp 125.000,00. Sebelum memutuskan untuk menyewa banana boat, kami menonton orang yang sudah menyewa. Banana boat yang mereka tumpangi kami rasa kurang cepat, kurang ada tantangan. Kami pun membatalkan keinginan untuk menyewanya dan sebagian teman, termasuk diriku, memilih untuk berenang dan sebagian lagi berjalan-jalan dan berfoto di sekitar pulau. Puas bermain di pulau itu, kami memutuskan untuk pulang. Namun, rute pulang kami ubah sedikit dengan tambahan mengelilingi pulau tersebut.

Mengelilingi pulau ini membutuhkan keberanian lebih banyak dibanding saat datang ke pulau ini karena gelombang lautnya lebih besar dibanding dengan gelombang saat datang ke pulau. Goyangan kapal terasa lebih ‘menakutkan’. Dengan lebih besarnya gelombang yang diterjang perahu, membuat pikiranku mengenai kemungkinan tenggelamnya perahu terlintas kembali. Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi hingga kami selesai mengelilingi pulau. Huuffff…. Lega rasanya.

Perjalanan pulang ke resor dilanjutkan kembali. Perjalanan pulang ini menyajikan keindahan laut yang sesungguhnya. Selama perjalanan pulang, di dalam air laut kulihat berbagai macam dan berbagai ukuran ubur-ubur yang sedang berenang. Warna tubuh mereka yang berbeda-beda membuat pemandangan semakin menarik. Kalau tak salah lihat, ada ubur-ubur yang berwarna merah, biru, hingga putih. Pokoknya indah jika dipandang mata.

Kami tiba di resor tepat saat adzan maghrib berkumandang. Setelah membersihkan diri dan sholat, kami pun bersantai sejenak. Untuk makan malam, kami telah memesan ikan laut yang siap kami bakar dan nasi. Sementara untuk desert-nya, diputuskanlah untuk menyantap kadu dibungkus daun aren alias DUREN. Untuk itu dibagi dua kelompok, yang masing-masing tugasnya adalah memasak ikan dan membeli durian. Aku berada di kelompok yang memasak ikan karena aku malas untuk mencari durian. Tetapi, sebelum pembagian kelompok itu, aku sedang bermain game bersama seorang teman. Tanpa terasa game itu telah menyita waktu kami. Saat tersadar belum memasak ikan, kami langsung berhenti bermain game. Untungnya, masih ada beberapa teman yang memasak ikan. Langsung saja aku bergabung dan ikut memasak ikan.

Ikan matang dan duren pun telah datang. Saatnya makan malam… ! Nasi hangat ditambah dengan ikan bakar dan sambal yang mantap membuat makan malam menjadi menyenangkan, ditambah saat itu merupakan malam bulan purnama. Lengkap sudah kenikmatan malam di tanggal 8 Agustus 2009 ini. Hmmmm… salah satu makan malam ternikmat yang pernah ku alami. Oiya, untuk makan malam ini, satu orang mendapatkan jatah satu ekor ikan bakar. Selesai menyantap ikan, masih ada lagi ‘sasaran’ yang harus disantap, yakni durian Lampung. Wah, malam itu serasa benar-benar berpesta. Aku melahap beberapa buah durian. Nikmat sekali kurasakan saat itu. Perut kenyang dan waktu pun semakin malam. Kupikir ini saat yang tepat untuk tidur. Aku beranjak menuju ‘kapling’ tempat tidur, sementara beberapa temanku masih asyik berkumpul di luar, bermain kartu remi.

Ku terbangun saat jam di ponsel menunjukkan jam 05.27. Langsung saja aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan berwudhu. Selepas sholat shubuh, aku berpakaian yang pantas untuk menuju ke kondangan. Teman-teman yang lain pun melakukan kegiatan yang sama. Pada pukul 07.19, semua sudah siap untuk berangkat menuju tempat resepsi pernikahan. Setelah berpamitan pada pemilik resor, kami berangkat menuju tempat nikahan.

Pukul 08.37, kami tiba di tempat pernikahan Irul. Keadaan masih sepi saat kami tiba. Berhubung kami semua belum sarapan, maka kami mecari warung dan sarapanlah kami di warung yang berhasil kami temukan. Aku sarapan dengan segelas kopi susu dan roti coklat. Ditengah-tengah sarapan, kulihat rombongan pengantin pria sudah datang ke lokasi. Langsung saja sarapan itu terhenti dan kami semua berjalan menuju lokasi setelah membayar sarapan. Tampak Irul dan keluarganya telah sampai di tempat pernikahan. Kami pun masuk ke area tempat pernikahan dengan tak lupa mengisi buku tamu undangan. Suasana di area tempat akad masih sepi, hanya ada pihak keluarga kedua pengantin.

Tak lama menunggu, pengantin pria dan keluarga dipersilakan untuk memasuki gedung tempat akad. Kami pun dengan percaya diri ikut memasuki ruangan itu. Acara ijab qabul yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga setelah melewati berbagai macam prosesi penyambutan dari pihak pengantin wanita. Keheningan menyelimuti seisi ruangan. Terasa sekali betapa sakralnya sebuah proses pernikahan. Tak ada satu pun yang bercanda, semua yang hadir di ruangan memperhatikan ke arah pengantin.

Ijab diucapkan oleh calon mertua Irul dengan lancer dan diteruskan dengan qabul oleh pengantin pria. Semua berjalan lancar, tak ada yang terputus kata-katanya. Akan tetapi, ternyata ada kesalahan penyebutan mahar oleh calon mertua Irul. Diulanglah pengucapan ijab qabul. Bapak pengantin wanita mengulangi ucapannya dan kali ini penyebutan maharnya sudah benar, tapi kali ini justru Irul yang melongo. Dia tampak kebingungan, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Diulanglah pengucapan ijab qabul untuk kedua kalinya. Bapak pengantin wanita pun kembali mengulangi ijabnya. Dan kali ini pengucapan ijab qabul berjalan dengan lancar tanpa kesalahan. Para hadirin ada yang bertepuk tangan, sedangkan aku hanya bisa diam terharu menyaksikan peristiwa yang terjadi di ddepan mataku. Peristiwa yang mengubah hal-hal yang diharamkan menjadi halal. Peristiwa yang menyatukan cinta kedua manusia.

Selepas ijab qabul, aku dan teman-teman kembali ke luar ruangan dan menunggu kedua pengantin berganti pakaian yang akan dikenakan saat resepsi nanti. Tak diperlukan waktu yang lama untuk melihat kedua pengantin menggunakan pakaian ‘kebesaran’ mereka. Kedua pengantin tampak serasi dengan balutan busana berwarna putih dan mencirikan adat daerah asal pengantin perempuan, Lampung. Kami pun mengekor kedua pengantin menuju ruang resepsi. MC pernikahan mulai beraksi. Dia mulai mengeluarkan kemampuannya berbicara memandu acara. Kami tak terlalu tertarik dengan isi pembicaraan sang MC. Kebanyakan dari kami ingin segera mencicipi hidangan yang tersaji. Maklum, pas tadi berangkat kami belum sarapan yang berat, baru sekedar menyantap makanan ringan. Akhirnya kesempatan untuk makan pun tiba, langsung saja kami menuju meja makanan untuk mengambil makanan yang kami sukai.

Sambil makan, kami dihibur oleh penyanyi musik organ yang menyanyikan lagu-lagu bertema cinta (secara tidak mungkin di acara pernikahan ada lagu tentang patah hati atau sejenisnya). Sesi foto-foto dengan pengantin sudah dimulai. Selesai makan, kami pun bergegas menuju pelaminan untuk bisa berfoto dengan pengantin. Foto pertama bertemakan serius dan foto yang kedua bertemakan gaya bebas.Wah, kami semua mengeluarkan ekspresi paling gokil yang kami bisa. Ahhh… selesai sudah semua acara yang kami rencakanan. Sekarang tinggal memikirkan acara pulang.

Selepas menghadiri pernikahan, kami diajak oleh salah seorang teman, Gilang, untuk singgah di rumahnya. Katanya, lebih baik bila kita beristirahat di rumahnya sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Kami menyetujui ajakan Gilang untuk singgah di rumahnya. Ternyata rumah Gilang dekat dengan lokasi pernikahan. Sesampainya di sana, kami langsung beristirahat. Ada yang langsung berbaring, dan ada juga yang duduk-duduk di kursi. Hidangan pun dikeluarkan oleh tuan rumah. Pempek dan minuman dingin. Wuiihhhh... mantap benar !!!

Puas beristirahat, kami lantas melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan....

DARI LAMPUNG

Perjalanan pulang di mulai pukul 15.57. Sebelum ke pelabuhan, kami mampir dulu mencari oleh-oleh khas Lampung. Berbelanja oleh-oleh dihiasi dengan tingkah polah teman-teman, dan aku sendiri tentunya, yang kebingungan menentukan oleh-oleh yang akan kami bawa.oleh-oleh sudah di tangan, selanjutnya melanjutkan perjalanan ke rumah makan Begadang II lagi. Kenapa ? Karena masakan di situ mak nyuusss sekali dan bukan hanya aku saja yang terhipnotis dengan kelezatan ayam goreng telornya.

Kami makan hingga terdengar adzan maghrib. Sholat maghrib berjamaah pun ditunaikan. Baru selesai sholat kami berkemas untuk segera berangkat ke pelabuhan. Perjalanan pulang terasa lebih membosankan di bandingkan saat berangkat. Mungkin penyebabya dikarenakan perbedaan waktu yang digunakan. Saat datang kita disambut mentari pagi, sedangkan saat pulang sang mentari telah tenggelam di ufuk barat. Akhirnya kubiarkan mata ini terpejam selama perjalanan.

Pukul 21.23, barulah kami sampai di atas kapal Jatra I. Kapal yang akan mengantarkan kami ke pulau Jawa. Kapal JatraI ini lebih kecil dibandingkan dengan kapal Duta Banten. Namun, keadaan di dalam kapal lebih nyaman. Terdapat beberapa kabin atau ruangan dalam kapal ini. Ada yang kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Kami memilih kelas eksekutif. Perlu diketahui, untuk masuk ke kabin eksekutif dikenakan biaya Rp 10.000,00/orang. Suasana kabin yang nyaman dilengkapi dengan televisi berlayar lebar yang sedang menyiarkan pertandingan sepakbola antara Manchester United melawan Chelsea FC, membuatku lupa sementara tentang keberadaanku di atas kapal. Dalam pikiranku, aku sedang berada di dalam bis. Tak terasa memang.... Sampai akhirnya aku tertidur dan dibangunkan oleh temanku saat kapal mulai merapat ke dermaga Pelabuhan Merak. Wah, sungguh perjalanan yang melenakan. Kulihat jam di ponsel menunjukkan pukul 23.51.

Turun dari kapal, mobil melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Lagi-lagi kubiarkan mataku terpejam, terserang kantuk. Aku terbangun di kawasan Senen, yang berarti mobil sedang menuju ke tempat kontrakan teman-teman di sekitar Cempaka Putih Utara. Setelah teman-teman menurunkan barang bawaan di kontrakan, mobil kembali melaju. Kali ini tujuannya adalah Bintaro, tempat kostku dan dua orang temanku, Yogi dan Anton. Pukul 02.54 dini hari, aku baru sampai di depan kamar kostku. Tak terasa perjalanan selama tiga hari ini meninggalkan kenangan yang indah dalam pikiranku. Tak terasa pula bahwa badan ini terlalu capek, sudah melampaui batasannya. Kuambil bantal setelah berganti pakaian dan tak lama kemudian aku pun tertidur.

Zzzzz..... Zzzzz......


*selamat menulis di lembar kehidupan barumu, Sobat

Tidak ada komentar: